Autofagi: Rahasia Tubuh Memperbarui Diri untuk Sehat dan Tahan Stres
JAKARTA - MEDIA POSITIF,
-
Melalui autofagi, sel bisa mendaur ulang menjadi energi agar tetap bertahan dan seimbang.
-
Gaya hidup sehat seperti puasa terkontrol, olahraga rutin, dan manajemen stres dapat membantu merangsang autofagi secara bertahap.
-
Autofagi berkontribusi menjaga keseimbangan metabolik.
Taukah anda bahwa sel bisa memakan dirinya sendiri atau disebut sebagai autofagi dimana dapat berperan penting dalam mencegah lapar dan mengelola stress.
Penemuan ini pertama kali dipetakan oleh Yoshinori Ohsumi, ilmuwan ahli biologi yang telah memenangkan nobel tahun 2016. Dimana berdasarkan penemuannya, sel tidak langsung mati ketika kekurangan nutrisi dan menghadapi stress karena sel bisa bertahan pada masa sulit karena mampu memakan diri.
Autofagi mendaur ulang sel menjadi energi
Para ilmuwan pertama kali mencetuskan konsep autofagi pada tahun 1960-an, ketika mereka meneliti bagian sel yang, seperti komponen mobil dimana bagian komponen ini mudah aus seiring waktu.
Meski hanya sedikit laboratorium yang meneliti proses autofagi selama tiga dekade, upaya ini sebagai langkah mengetahui terkait sel bisa bertahan untuk menahan rasa lapar, mencegah stress dan menjaga keseimbangan tubuh.
Penemuan ini membantu anda memahami, tubuh anda memiliki cara cerdas untuk merawat dirinya sendiri.
Penelitian kemudian berfokus pada struktur bulat yang lebih besar yang mampu memakan sebagian besar sel.
Dengan adanya lisosom yang bergerak di dalam sel, bagian-bagian yang rusak dapat dikumpulkan dan diuraikan menjadi protein, gula, dan lipid untuk digunakan kembali.
Proses ini menunjukkan bahwa tubuh anda sebenarnya memiliki sistem daur ulang alami yang bekerja tanpa disadari.
Penelitian juga dilakukan oleh Yoshinori Ohsumi menggunakan ragi roti sebagai bahan eksperimen.
Laboratoriumnya melakukan percobaan dengan membuat ragi dengan rendah nutrisi dan ditemukan fakta bahwa sel ragi mampu membentuk struktur bulat besar sama seperti lisosom.
Dengan memodifikasi gen pada ragi roti, ditemukan sekitar 15 gen yang berperan penting dalam mengendalikan autofagi.
Temuan ini memberikan harapan baru untuk memahami bagaimana sel dalam tubuh manusia bisa bertahan dalam kondisi yang tidak memungkinkan.
Puasa dapat membantu proses autofagi
Selain melakukan puasa, penelitian menunjukkan bahwa olahraga teratur dan mengelola stres (baik dari dalam maupun luar diri) dapat membantu merangsang autofagi. Langkah-langkah sederhana ini memberikan kesempatan bagi tubuh untuk bekerja lebih optimal dan menjaga keseimbangannya.
Hal ini memberikan harapan bahwa pemahaman terkait autofagi dapat membuat anda menjalani hidup dengan lebih sehat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa autofagi tidak selalu langsung meningkat hanya karena puasa atau stres. Tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi sebelum mampu mengurai sel menjadi sumber energi. Proses ini terjadi secara bertahap dan alami.
Autofagi membantu dalam mencegah akumulasi lemak di hati
Berdasarkan jurnal Autophagy Alterations in Obesity, Type 2 Diabetes and Metabolic Dysfunction, dijelaskan bahwa autofagi berperan penting dalam menjaga keseimbangan metabolik tubuh. Proses ini membantu sel bekerja lebih teratur dan efisien dalam mengelola energi pada tubuh.
Namun, pada kondisi obesitas dan diabetes tipe 2, dapat menyebabkan perubahan pada jalur autofagi yang berpotensi memperburuk resistensi insulin dan mengganggu kesehatan metabolik. Kondisi ini tentu tidak mudah dijalani, karena mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari.
Hal ini dapat dicegah dengan mengontrol nutrisi dengan takaran yang tepat maupun dengan melakukan pendekatan farmakologis yang dapat membantu memperbaiki sensitivitas insulin dan menurunkan risiko komplikasi metabolik.***
Original article: Autophagy is one of the body’s built-in repair systems.

Komentar