Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

5 Cara Makanan Cepat Saji Berpengaruh Pada Kemampuan Otak

Makanan cepat saji memang membuat candu, 5 cara cara ini sangat berpengaruh pada perkembangan otak
5 Cara Makanan Cepat Saji Berpengaruh Pada Kemampuan Otak
5 cara makanan cepat saji berpengaruh pada kemampuan otak (Sumber: Freepik/@Freepik)

JAKARTA – MEDIA POSITIF,

  • Makanan cepat saji bukan hanya soal rasa, tetapi juga mempengaruhi sistem penghargaan di otak.

  • Kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi gula dan lemak dapat mempengaruhi fungsi otak.

  • Perubahan kecil menuju pola makan yang lebih sehat dan gaya hidup aktif dapat membantu menjaga kesehatan tubuh.

 

Anda mungkin sudah menyadari bahwa makanan cepat saji kurang baik untuk tubuh. Namun, mengurangi atau menghindarinya tidak selalu mudah, terutama karena rasanya yang lezat.

Bahkan, makanan ini dapat mempengaruhi bagian otak tertentu sehingga menimbulkan sensasi yang membuat seseorang merasa candu ingin terus mengkonsumsinya.

Bagaimana mengkonsumsi makanan tidak sehat berpengaruh pada otak

Berikut ini 5 cara bagaimana mengkonsumsi makanan tidak sehat bisa berpengaruh pada otak:

1. Makanan cepat saji memicu rasa senang: Otak memiliki sistem penghargaan yang secara alami mendorong Anda untuk melakukan hal yang menyenangkan.

Termasuk mengkonsumsi makanan lezat, meskipun makanan tersebut tidak selalu baik untuk tubuh seperti makanan cepat saji. Sirkuit penghargaan di dalam otak aktif melepaskan zat kimia dopamin yang menimbulkan rasa senang. 

Jika rangsangan ini terjadi berulang, otak bisa menyesuaikan responnya melalui peningkatan kebutuhan terhadap rangsangan tersebut.

Akibatnya, sebagian orang dapat merasa semakin sulit menolak makanan cepat saji karena otak mulai terbiasa dengan sensasi kepuasan yang diberikan., yang pada akhirnya dapat meningkatkan nafsu makan.

2. Menarik perhatian dan membuat impulsif: Untuk menahan godaan tersebut, Anda sangat bergantung pada pusat kendali utama di otak, yaitu korteks prefrontal.

Bagian ini belum sepenuhnya matang hingga awal usia 20-an, sehingga remaja sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menahan godaan dan membuat pilihan makanan yang lebih sehat.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis dalam jumlah tinggi pada usia muda dapat berpengaruh pada perkembangan otak. 

Pada usia muda, otak masih berada dalam tahap perkembangan yang sangat aktif dan sensitif terhadap kebiasaan yang terbentuk.

3. Makanan cepat saji dapat menyebabkan radang otak: Makanan olahan cepat saji umumnya mengandung kadar gula dan lemak yang lebih tinggi dibandingkan makanan alami. Sehingga kondisi ini dapat memicu peradangan pada otak.

Proses ini dikenal sebagai neuroinflamasi, yang dapat menciptakan siklus berkelanjutan sehingga memicu peradangan dan berpotensi merusak sel neuron pada otak.

Hanya dalam waktu sekitar 5 hari mengonsumsi minuman manis, kue, dan biskuit, kadar peradangan di area hipokampus dapat meningkat, yang berkaitan dengan meningkatnya rasa lapar.

4. Mengurangi kemampuan belajar otak: Hipokampus menjadi pusat memori pada otak, dan seseorang yang sering mengkonsumsi makanan cepat saji cenderung tidak menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mereka yang mengkonsumsi makanan sehat.

Hal ini terjadi karena ingatan yang terbentuk pada otak dibangun melalui koneksi antar neuron yang terus – menerus disusun ulang sebagai respons terhadap lingkungan yang dinamis.

Proses ini dikenal sebagai neuroplastisitas, atau prinsip “neuron yang aktif dan saling terkoneksi.

Pola makanan cepat saji telah terbukti dapat mengurangi neuroplastisitas, yang sangat penting bagi kemampuan otak ANda dalam membentuk ingatan baru serta mempelajari hal baru dengan lebih cepat.

5. Mengurangi pembentukan neuron baru: Pembentukan neuron baru atau neurogenesis terjadi sepanjang hidup, terutama pada area hipokampus. 

Neuron ini memiliki tingkat neuroplastisitas yang tinggi, sehingga mudah diaktifkan oleh berbagai peristiwa lingkungan yang berperan penting dalam pembentukan ingatan baru.

Penurunan jumlah neuron  telah dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental, termasuk depresi. 

Makanan cepat saji dapat memberikan rasa senang ketika seseorang sedang sedih, sehingga mendorong konsumsi lebih banyak, yang pada akhirnya dapat memperburuk perasaan sedih.

Kesimpulan

Kabar baiknya, perubahan kecil yang dilakukan secara bertahap dapat membantu mengurangi dampak pola makan yang kurang sehat terhadap kesehatan otak.

Aktivitas fisik, khususnya olahraga aerobik, juga dapat membantu menjaga berat badan yang sehat sekaligus meningkatkan neuroplastisitas otak.

Dengan menerapkan pola hidup yang lebih aktif dan mengkonsumsi makanan bergizi, Anda dapat menjaga kesehatan tubuh sekaligus mendukung fungsi otak agar tetap optimal.***

Five ways junk food changes your brain

Komentar