JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Sejak 1997, Lawrence R. Samuel, Ph.D., seorang sejarawan budaya, telah menerbitkan sekitar 40 buku nonfiksi, puluhan artikel ilmiah, dan ratusan tulisan blog.
Karya-karyanya diterbitkan oleh berbagai penerbit, mulai dari penerbit komersial, universitas, hingga penerbit independen.
Menghabiskan puluhan tahun untuk menulis dan menghasilkan jutaan kata tentu bukan hal yang biasa. Konsistensi seperti ini pun memunculkan pertanyaan menarik dari sudut pandang psikologi: apa yang sebenarnya mendorong seseorang untuk terus berkarya dalam jangka panjang?
Bukan Sekadar Mengejar Uang dan Ketenaran
Banyak orang mengira bahwa penulis yang sangat produktif didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kekayaan atau popularitas.
Namun, tidak semua bidang penulisan menawarkan peluang untuk memperoleh keduanya. Penulisan khusus, seperti sejarah budaya, misalnya, bukanlah bidang yang selalu menjanjikan penghasilan besar atau ketenaran dalam waktu singkat.
Selain itu, proses menulis juga jauh dari kesan glamor. Menghabiskan waktu berjam-jam sendirian, menyusun kata demi kata, dan mengulang proses yang sama setiap hari membutuhkan ketekunan.
Jika uang dan popularitas bukan satu-satunya pendorongnya, lalu apa yang membuat seseorang tetap bersemangat untuk menghasilkan karya?
Apakah produktivitas tinggi selalu berkaitan dengan dorongan psikologis yang sulit dikendalikan? Belum tentu. Untuk memahaminya, kita perlu melihat perbedaan antara kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dan perilaku berulang yang berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu.
Memahami Perbedaan Kompulsi, Obsesi, dan Kecanduan
Dalam psikologi, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan pikiran dan perilaku berulang. Tiga di antaranya adalah:
-
Kompulsi (Compulsion)
Perilaku berulang yang dilakukan seseorang untuk mengurangi kecemasan atau tekanan yang muncul akibat pikiran tertentu. Perilaku ini sering kali terasa sulit dikendalikan.
-
Obsesi (Obsession)
Pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang kali, sulit dikendalikan, dan dapat menimbulkan kecemasan atau ketidaknyamanan.
-
Kecanduan (Addiction)
Pola perilaku ketika seseorang terus melakukan suatu aktivitas meskipun sudah menimbulkan dampak negatif bagi kehidupannya dan sulit untuk menghentikannya.
Ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda dari kebiasaan produktif yang dijalani secara sadar.
Seseorang yang memiliki target menulis setiap hari, misalnya, belum tentu mengalami kompulsi atau kecanduan. Jika aktivitas tersebut dilakukan dengan kesadaran, memberikan kepuasan, dan tidak menimbulkan tekanan yang mengganggu kehidupan sehari-hari, kebiasaan itu bisa menjadi bagian dari rutinitas yang sehat.
Kondisi ini lebih menyerupai seorang tukang batu yang tekun menyusun bata demi bata. Ia memahami bahwa sebuah bangunan yang kokoh tidak tercipta dalam sehari, melainkan melalui proses kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kekuatan Motivasi Intrinsik dan Keinginan untuk Meninggalkan Karya
Bagi sebagian penulis, kepuasan terbesar bukan hanya berasal dari pencapaian seperti masuk daftar buku terlaris atau mendapatkan pengakuan publik. Ada kebahagiaan tersendiri ketika mereka menyadari bahwa karya yang dihasilkan dapat bertahan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Tulisan bisa menjadi bagian dari jejak pemikiran seseorang. Melalui buku, artikel, atau karya lainnya, gagasan dan pengalaman yang dibagikan dapat terus dibaca bahkan setelah penulisnya tidak lagi berkarya.
Dalam psikologi, dorongan untuk melakukan sesuatu karena aktivitas itu sendiri memberikan kepuasan dan makna dikenal sebagai motivasi intrinsik.
Berbeda dengan motivasi ekstrinsik yang didorong oleh faktor dari luar, seperti uang, penghargaan, atau pengakuan, motivasi intrinsik berasal dari dalam diri. Seseorang berkarya karena menikmati prosesnya, merasa tertantang, atau menganggap aktivitas tersebut selaras dengan nilai dan identitas pribadinya.
Ketika seseorang menemukan makna dalam apa yang dikerjakannya, proses yang melelahkan pun bisa terasa lebih layak untuk dijalani. Kepuasan tidak hanya datang dari hasil akhir, tetapi juga dari perjalanan dan perkembangan yang dialami selama proses tersebut.
Inilah salah satu alasan motivasi intrinsik dapat membantu seseorang menjaga konsistensi dalam jangka panjang. Bukan karena setiap hari selalu terasa mudah atau menyenangkan, melainkan karena ada alasan pribadi yang membuatnya ingin terus melangkah dan menghasilkan sesuatu yang bermakna.
psychologytoday.com

Komentar