JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Banyak orang mengira karyawan yang cekatan dan punya kinerja baik bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, sehingga punya lebih banyak waktu luang.
Padahal, kenyataannya nggak selalu begitu. Karyawan yang bisa diandalkan justru sering mendapat pekerjaan tambahan karena dianggap mampu menangani berbagai hal. Lama-kelamaan, tanggung jawab yang terus bertambah ini bisa membuat mereka kewalahan, terutama jika pekerjaan utama tetap harus diselesaikan dengan baik.
Ketika beban kerja terus menumpuk tanpa pembagian yang jelas, risiko burnout atau kelelahan akibat tekanan kerja juga bisa meningkat.
Berikut delapan tugas tambahan yang sering diberikan kepada karyawan andalan, tetapi jika terus-menerus dibebankan kepada orang yang sama, bisa mengganggu fokus dan keseimbangan kerja mereka.
1. Selalu Menjadi Pengganti Rekan Kerja (Back-up)
Ketika ada rekan kerja yang izin atau mengambil cuti, karyawan yang dikenal bisa diandalkan sering menjadi orang pertama yang diminta mengambil alih pekerjaannya.
Sesekali membantu rekan kerja tentu bukan masalah. Namun, jika tugas tambahan selalu diberikan kepada orang yang sama tanpa mempertimbangkan beban kerjanya, pekerjaan utama bisa ikut terbengkalai.
Apalagi jika tugas yang harus diambil alih berada di luar tanggung jawab atau keahliannya.
2. Mengawasi dan Membantu Mengarahkan Rekan Kerja
Karyawan yang punya kinerja baik sering dijadikan tempat bertanya atau diminta membantu mengarahkan rekan satu tim. Dalam beberapa situasi, mereka bahkan ikut menangani tugas yang biasanya menjadi tanggung jawab seorang supervisor atau manajer.
Membantu tim tentu bisa menjadi bagian dari kerja sama. Namun, jika tanggung jawab tersebut terus bertambah tanpa kejelasan peran, pengakuan, atau penyesuaian kompensasi, karyawan bisa merasa terbebani.
Kemampuan bekerja dengan baik seharusnya tidak otomatis membuat seseorang harus mengambil tanggung jawab tambahan tanpa pembicaraan yang jelas.
3. Selalu Menangani Klien atau Pelanggan yang Sulit
Saat menghadapi klien yang sulit diajak bekerja sama, rekan kerja mungkin akan meminta bantuan karyawan yang dianggap lebih berpengalaman.
Alasannya sering kali sederhana: mereka dinilai lebih mampu menghadapi situasi tersebut. Namun, menangani keluhan, menghadapi tuntutan yang tinggi, dan menjaga komunikasi tetap profesional juga membutuhkan energi emosional.
Jika tugas seperti ini terus diberikan kepada orang yang sama, mereka bisa merasa kesulitan membagi perhatian antara menangani klien dan menyelesaikan pekerjaan lainnya.
4. Melatih Karyawan Baru
Mendampingi karyawan baru membutuhkan waktu untuk menjelaskan alur kerja, mengenalkan sistem, hingga membantu mereka memahami tanggung jawabnya.
Tugas ini sering diberikan kepada karyawan berpengalaman karena mereka dianggap paling memahami pekerjaan. Padahal, mendampingi orang baru bukan berarti pekerjaan utama mereka otomatis berkurang.
Jika tanggung jawab tersebut menjadi bagian rutin dari pekerjaan, pembagian waktu dan prioritas perlu dibicarakan agar karyawan yang mendampingi tetap bisa menyelesaikan tugasnya sendiri.
5. Menjawab Berbagai Pertanyaan Rekan Kerja
Karyawan yang berpengalaman sering menjadi tempat bertanya ketika rekan kerja mengalami kesulitan. Kebiasaan saling membantu ini sebenarnya bisa mendukung kerja sama tim.
Masalahnya muncul ketika pertanyaan datang terus-menerus, termasuk untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dicari atau dipelajari sendiri.
Gangguan kecil yang berulang dapat memecah konsentrasi dan membuat pekerjaan utama lebih lama diselesaikan. Karena itu, penting bagi tim untuk memiliki panduan kerja atau dokumentasi yang mudah diakses, sehingga tidak semua pertanyaan harus bergantung pada satu orang.
6. Mengurus Masalah Kecil di Kantor
Printer bermasalah, perlengkapan kantor habis, atau ada kendala teknis sederhana. Tanpa disadari, karyawan yang rajin dan sigap sering diminta membantu membereskan hal-hal tersebut.
Masing-masing tugas mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Namun, jika terus berdatangan, waktu yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan utama bisa banyak tersita.
Tugas-tugas seperti ini sebaiknya dibagi sesuai kebutuhan dan tanggung jawab tim, bukan selalu diberikan kepada orang yang dianggap paling bisa diandalkan.
7. Memeriksa Ulang Pekerjaan Rekan Kerja (Double-check)
Meminta rekan kerja memeriksa dokumen penting sebelum dikirim merupakan hal yang wajar. Masukan dari orang lain bisa membantu menemukan kesalahan yang terlewat.
Namun, situasinya berbeda jika seorang karyawan terus-menerus diminta memeriksa pekerjaan orang lain karena rekan kerjanya kurang teliti atau tidak melakukan pemeriksaan sendiri.
Selain menambah beban kerja, kebiasaan ini juga bisa membuat karyawan tersebut kesulitan menyelesaikan tanggung jawabnya. Pemeriksaan ulang sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan dan pembagian peran yang jelas, bukan menjadi tugas tambahan yang selalu dibebankan kepada orang yang sama.
8. Menjadi Penengah saat Ada Masalah di Kantor
Di tengah tekanan pekerjaan, perbedaan pendapat atau konflik antarrekan kerja bisa saja terjadi. Dalam situasi seperti ini, karyawan yang dikenal tenang dan bijak sering diminta membantu menengahi masalah.
Membantu menciptakan suasana kerja yang baik tentu merupakan hal positif. Namun, jika seseorang selalu diharapkan untuk menenangkan rekan kerja, meredakan konflik, atau menjaga suasana hati seluruh tim, tanggung jawab emosional tersebut bisa terasa melelahkan.
Karyawan tetap perlu memiliki ruang untuk mengelola emosinya sendiri. Menjaga hubungan baik di kantor juga bukan tanggung jawab satu orang saja, melainkan bagian dari upaya seluruh tim.
Menjadi Karyawan Andal Bukan Berarti Harus Mengerjakan Semuanya
Menjadi karyawan yang kompeten dan bisa diandalkan merupakan hal yang positif. Namun, bukan berarti kamu harus selalu mengatakan iya setiap kali ada pekerjaan tambahan.
Jika tanggung jawab mulai terasa berlebihan, coba tinjau kembali prioritas kerja dan bicarakan pembagian tugas dengan atasan. Kamu bisa menjelaskan pekerjaan yang sedang ditangani dan mendiskusikan tugas mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.
Menetapkan batasan (boundaries) bukan berarti kamu tidak mau membantu atau bekerja sama. Justru, batasan yang jelas membantu memastikan bahwa tanggung jawab tetap terbagi dengan baik dan pekerjaan bisa diselesaikan secara optimal.
Kamu tetap bisa menjadi rekan kerja yang suportif tanpa harus selalu menjadi orang yang menyelesaikan semuanya.
yourtango.com

Komentar