JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Banyak perempuan yang berkarier mendambakan hubungan rumah tangga yang setara. Mulai dari berbagi tugas membersihkan rumah, mengasuh anak, hingga membagi tanggung jawab keuangan keluarga.
Gagasan tentang kesetaraan ini menghadirkan harapan bahwa perempuan bisa tetap mengembangkan karier sekaligus membangun keluarga yang harmonis, terutama ketika memiliki pasangan yang bersedia berbagi tanggung jawab.
Namun, realitasnya tidak selalu semudah itu. Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan masih menjadi persoalan di dunia kerja. Selain itu, fenomena mommy tracking juga masih terjadi, yaitu ketika perempuan mengalami hambatan promosi, penurunan pendapatan, atau kehilangan kesempatan karier setelah menjadi ibu.
Di tengah tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga, perempuan juga kerap menghadapi tekanan yang lebih besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesetaraan dalam rumah tangga tidak cukup hanya menjadi harapan, tetapi perlu diwujudkan melalui pembagian peran yang nyata.
Hambatan Terbesar bagi Kesuksesan Karier Perempuan
Banyak orang mengira bahwa kehadiran anak merupakan penyebab utama perempuan mengorbankan kariernya.
Namun, sebuah studi dari Harvard Business School menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Salah satu faktor penting yang memengaruhi perjalanan karier perempuan setelah memiliki anak adalah kurangnya dukungan pasangan dalam berbagi tanggung jawab rumah tangga.
Studi tersebut mengamati perjalanan karier perempuan dalam jangka panjang dan menemukan bahwa ambisi serta ekspektasi profesional perempuan sebenarnya tidak jauh berbeda dari laki-laki.
Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memandang jabatan dan pencapaian profesional sebagai bagian penting dari kesuksesan karier.
Meski demikian, perempuan cenderung mengalami penurunan kepuasan kerja setelah berkeluarga. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan dalam kehidupan keluarga dapat memengaruhi pengalaman profesional mereka.
Sebelumnya, ada anggapan bahwa perempuan meninggalkan pekerjaan karena memang lebih memilih untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Namun, pandangan tersebut tidak selalu menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Sebagian perempuan justru harus mengesampingkan ambisi karier bukan karena kehilangan keinginan untuk berkembang, melainkan karena tanggung jawab domestik yang tidak terbagi secara seimbang.
Perubahan Peran Setelah Anak Lahir
Tantangan dalam pembagian peran rumah tangga sering kali semakin terasa setelah kelahiran anak pertama.
Pada fase ini, pasangan yang sebelumnya sepakat menerapkan prinsip kesetaraan bisa saja kembali menjalani pembagian peran yang lebih tradisional. Tanggung jawab mengasuh anak dan mengurus rumah tangga akhirnya lebih banyak dibebankan kepada istri.
Di sisi lain, ekspektasi sosial yang masih menempatkan perempuan sebagai pengasuh utama turut memperkuat kondisi tersebut.
Akibatnya, banyak perempuan yang bekerja harus menyesuaikan prioritas karier demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian mungkin memilih mengurangi jam kerja, menunda kesempatan promosi, atau bahkan meninggalkan pekerjaan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan perempuan dalam membangun karier dan keluarga tidak hanya bergantung pada kemampuan mengatur waktu, tetapi juga pada dukungan serta pembagian tanggung jawab yang adil di rumah.
Langkah Nyata Menghadapi Tantangan Karier dan Keluarga
Jika kamu ingin tetap mengembangkan karier sekaligus membangun keluarga, ada beberapa hal yang bisa mulai dipersiapkan:
-
Bicarakan pembagian peran sejak awal. Jangan hanya mengandalkan asumsi bahwa pasangan akan otomatis bersedia berbagi tanggung jawab. Diskusikan secara terbuka mengenai pekerjaan rumah, pengasuhan anak, dan pengelolaan keuangan, termasuk kemungkinan perubahan setelah memiliki anak.
-
Bangun sistem pendukung yang realistis. Kamu tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Bantuan dari keluarga, pengasuh anak, atau jasa kebersihan dapat menjadi pilihan untuk meringankan tanggung jawab domestik sesuai kebutuhan dan kemampuan keluarga.
-
Tanamkan nilai kesetaraan sejak dini. Anak laki-laki dan perempuan perlu memahami bahwa pekerjaan rumah dan tanggung jawab keluarga bukan hanya tugas salah satu gender. Nilai ini bisa diperkenalkan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Mengharapkan pasangan yang suportif tentu merupakan hal yang wajar. Namun, kesetaraan dalam hubungan tidak cukup dibangun melalui janji atau niat baik. Keduanya perlu diwujudkan dalam tindakan dan kesediaan untuk berbagi tanggung jawab.
Pada akhirnya, perempuan tidak seharusnya selalu dihadapkan pada pilihan antara mengembangkan karier dan menjalani kehidupan keluarga. Dengan komunikasi terbuka, pembagian peran yang adil, serta sistem pendukung yang memadai, keduanya dapat diupayakan berjalan beriringan.
yourtango.com

Komentar