JAKARTA - MEDIAPOSITIF, Kemarahan di tempat kerja bisa ikut memengaruhi suasana satu tim. Ketika atasan mudah marah, membentak, atau memberikan respons yang terlalu keras, karyawan bisa merasa tertekan dan memilih untuk diam daripada menyampaikan pendapat. Sebaliknya, kalau kemarahan karyawan dibiarkan begitu saja, masalah yang awalnya kecil juga bisa berkembang menjadi konflik.
Itulah kenapa kemampuan mengelola amarah penting, baik bagi karyawan maupun atasan. Apalagi sebagai pemimpin, cara kamu menghadapi masalah akan ikut dilihat dan dicontoh oleh anggota tim.
Mengapa Amarah Bisa Muncul di Tempat Kerja?
Marah sebenarnya adalah emosi yang wajar. Namun, rasa marah sering kali muncul karena ada emosi lain yang lebih dulu dirasakan, seperti takut, malu, kecewa, merasa ditolak, atau merasa tidak dihargai.
Misalnya, seorang karyawan terlihat marah ketika mendapat kritik. Padahal, bisa saja di balik kemarahan tersebut ada rasa malu atau takut dianggap tidak mampu.
Kamu juga perlu membedakan antara marah dan agresi. Marah adalah emosi, sedangkan agresi merupakan perilaku yang bisa muncul saat seseorang sedang marah, seperti membentak, mengancam, atau melakukan tindakan fisik.
Memahami perbedaannya bisa membantu atasan menghadapi situasi dengan lebih tenang, tanpa ikut terbawa emosi.
Cara Atasan Mengelola Amarah di Tempat Kerja
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan atasan ketika menghadapi situasi yang membuat emosi mulai naik.
1. Tunjukkan Cara Mengelola Emosi
Sebagai atasan, cara kamu merespons masalah akan diperhatikan oleh anggota tim. Kalau kamu bisa tetap tenang ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, karyawan juga bisa belajar dari cara tersebut.
Mengelola amarah bukan berarti harus selalu mengalah atau membiarkan kesalahan. Kamu tetap bisa tegas dan menyampaikan ketidaksetujuan, tanpa harus membentak atau merendahkan orang lain.
2. Bicara Tegas, Tanpa Membuat Orang Merasa Diancam
Kalau ada pekerjaan yang perlu segera diselesaikan, sampaikan dengan jelas apa yang kamu harapkan tanpa membuat karyawan merasa sedang diserang.
Misalnya, daripada mengatakan, “Kamu harus menyelesaikan laporan ini sekarang!”, kamu bisa mengatakan, “Saya berharap laporan ini sudah selesai pada Jumat.”
Pesannya tetap sama, tetapi cara menyampaikannya terasa jauh lebih nyaman untuk diterima.
3. Jelaskan Ekspektasi dari Awal
Konflik bisa muncul ketika karyawan tidak benar-benar memahami apa yang diharapkan dari mereka. Hal yang sama juga bisa terjadi ketika aturan atau kebijakan berubah tetapi tidak dijelaskan dengan baik.
Karena itu, pastikan tanggung jawab, target, aturan kerja, kompensasi, dan perubahan kebijakan disampaikan dengan jelas. Untuk hal-hal penting, kamu juga bisa menyampaikannya secara tertulis supaya tidak menimbulkan salah paham.
4. Jangan Langsung Menganggap Karyawan Malas
Ketika kinerja seseorang menurun, mungkin hal pertama yang muncul di pikiran adalah, “Dia memang lagi malas.”
Padahal, ada banyak kemungkinan lain. Bisa saja dia belum menguasai pekerjaannya, mendapat instruksi yang kurang jelas, kewalahan dengan beban kerja, atau sedang menghadapi masalah pribadi.
Sebelum memberikan penilaian, coba cari tahu dulu apa yang sedang terjadi.
5. Berikan Kritik yang Jelas dan Spesifik
Saat memberikan kritik, bicarakan apa yang perlu diperbaiki, bukan menyerang kepribadian orangnya.
Kalimat seperti, “Kamu selalu melakukan kesalahan” atau “Kamu memang nggak pernah mau mendengarkan” justru bisa membuat orang merasa diserang.
Lebih baik jelaskan kesalahan yang terjadi dan apa yang bisa diperbaiki. Dengan begitu, karyawan tahu apa yang perlu dilakukan tanpa merasa dirinya sedang dihakimi.
6. Kenali Hal yang Biasanya Membuatmu Marah
Setiap orang punya pemicu emosi yang berbeda. Coba perhatikan situasi apa yang biasanya membuatmu mudah kehilangan kesabaran.
Apakah kamu mudah marah ketika pekerjaan terlambat? Ketika karyawan tidak memenuhi ekspektasi? Atau ketika seseorang mempertanyakan keputusanmu?
Mengetahui pemicu ini bisa membuatmu lebih cepat sadar ketika mulai terbawa emosi. Dari sana, kamu bisa mengambil jeda sebelum memberikan respons.
7. Tetapkan Batasan yang Jelas
Memahami alasan seseorang marah bukan berarti kamu harus membiarkan perilaku yang tidak pantas.
Kalau ada karyawan yang membentak, mengancam, mengintimidasi, atau menunjukkan perilaku agresif, tetap perlu ada batasan yang jelas mengenai perilaku yang bisa diterima di tempat kerja.
Karyawan tentu berhak menyampaikan keberatan atau kritik. Namun, menyampaikannya tetap perlu dilakukan dengan cara yang profesional.
8. Jangan Menjadikan Rasa Takut sebagai Cara Memimpin
Membuat karyawan takut mungkin terlihat seperti cara yang cepat untuk membuat mereka patuh. Namun, dalam jangka panjang, cara ini justru bisa membuat orang tidak nyaman bekerja, enggan berbicara, dan hubungan dalam tim menjadi kurang baik.
Apalagi, kemarahan dari seorang atasan bisa terasa lebih menekan karena ada perbedaan posisi dan wewenang.
9. Perhatikan Kemarahan yang Tidak Selalu Terlihat
Kemarahan tidak selalu muncul dalam bentuk teriakan atau pertengkaran. Ada juga perilaku pasif-agresif yang mungkin tidak langsung terlihat sebagai bentuk kemarahan.
Misalnya, sengaja menahan informasi penting, menghambat pekerjaan orang lain, atau melakukan hal-hal kecil yang membuat pekerjaan anggota tim menjadi lebih sulit.
Karena itu, jangan hanya memperhatikan konflik yang terjadi secara terang-terangan. Perhatikan juga pola perilaku yang muncul di dalam tim.
10. Berikan Umpan Balik Secara Berkala
Jangan menunggu evaluasi tahunan untuk membicarakan kinerja karyawan. Kalau ada hal yang sudah berjalan baik atau justru perlu diperbaiki, sampaikan ketika situasinya masih relevan.
Dengan komunikasi yang lebih rutin, kesalahpahaman juga bisa dibicarakan lebih awal sebelum berubah menjadi masalah yang lebih besar.
>> Baca juga: Cara Menolak Pekerjaan Tambahan Secara Profesional
11. Jangan Pelit Memberikan Pujian
Tempat kerja seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk membicarakan kesalahan. Ketika karyawan melakukan sesuatu dengan baik, jangan ragu untuk memberikan apresiasi.
Daripada hanya mengatakan “Bagus”, misalnya, kamu bisa mengatakan, “Presentasimu tadi sangat jelas dan membantu klien memahami produk kita.”
Pujian yang spesifik membuat karyawan tahu apa yang sudah mereka lakukan dengan baik dan bisa dipertahankan.
Pada akhirnya, seorang atasan tidak harus selalu tenang dan tidak pernah marah. Rasa marah tetap merupakan emosi yang wajar. Yang penting adalah mengenalinya, memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak, lalu memilih bagaimana cara meresponsnya.
Karena masalah di tempat kerja mungkin tidak selalu bisa dihindari, tetapi cara kita menghadapinya bisa membuat perbedaan besar pada suasana satu tim.
11 Ways for Managers to Address Anger in the Workplace

Komentar